KONTROL

JAPESDA PERSOALKAN PEMBANGUNAN PANTAI RATU DI KAWASAN MANGROV

Editor : Ismail Abas

“Saya akui masuk kawasan (Mangrove) tetapi dalam proses pembangunan objek wisata pantai Ratu, pihak Desa dan Bumdes (Pengelola) tidak melakukan penebangan satu pohon Mangrove pun dalam proses pembangunan,” ungkap Darwis Moridu

BOALEMO (GOL) – Upaya peningkatan Pariwisata di Boalemo patut diajungi jempol. Berbagai terobosan yang dilakukan Bupati Boalemo Darwis Moridu pun menghasilkan buah. Kini, Boalemo bukan hanya dikenal dengan objek wisata Pulo Cinta, tetapi objek Wisata Pantai Ratu menjadi salah satu yang layak dijadikan referensi wisata di Boalemo.

Menariknya, di objek wisata ini berdiri kawasan Villa untuk menunjang fasilitas pengunjung yang akan datang menikmati keindahan pantai Ratu di Boalemo. Setiap orang yang mengunjunginya dibuat tercengang melihat keindahan kawasan panati ini.

Sayangnya, pembangunan pantai Ratu ini diduga berada di kawasan Mangrov. Hal ini menjadi sorotan pihak Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumberdaya Alam (Japesda) Gorontalo.

“Kawasan Mangrove di pantai Ratu diindikasikan masuk ke dalam peta kawasan hutan lindung, yang diatur dengan UU LH. Kemudian, Hak kelola kawasan hutan berdasarkan UU Otonomi Daerah saat ini, ada di tingkat Provinsi sesuai dengan Tata Ruang Wilayah,” ungkap Rahman Dako selaku Ketua Badan Pengawas Japesda Gorontalo.

Menyikapi hal ini, Bupati Boalemo, Darwis Moridu mengaku jika objek wisata pantai Ratu yang menjadi pusat perayaaan HUT Damai ke 2 tersebut berada di Kawasan Mangrove. Namun Dirinya meyakini, dalam proses pembangunan objek wisata pantai Ratu tidak melakukan penebangan pohon Mangrove.

“Saya akui masuk kawasan (Mangrove) tetapi dalam proses pembangunan objek wisata pantai Ratu, pihak Desa dan Bumdes (Pengelola) tidak melakukan penebangan satu pohon Mangrove pun dalam proses pembangunan,” ungkap Darwis Moridu saat menyambut Walikota Gorontalo dan Bupati Pohuwato dan rombongan di Pantai Ratu, 11 Juni 2019 lalu.

Pernyataan Bupati pun dianggap keliru oleh Rahman Dako. Menurutnya, hasil asesmen tim Japesda Gorontalo menemukan bekas tebangan dan penimbunan Mangrove akibat pembukaan jalan dan pembangunan fasilitas obyek wisata tersebut.

“Kalau benar ada pembabatan Mangrove, seharusnya Bupati memberi contoh yang baik bagi masyarakatnya, bukannya merusak Mangrove di kawasan hutan lindung seperti tersebut,” ungkap Rahman Dako.

Menurutnya, setiap pembangunan Daerah harus berdasarkan perencanaan yang baik, dan didesign sedemikian rupa agar memberi manfaat bagi seluruh masyarakat. “Penting mendorong Pariwisata Bahari tetapi harus memperhatikan dampak lingkungan hidup,” ungkapnya.

“Obyek Wisata itu, yang dijual adalah keindahan alamnya, bukan merusak alam untuk kepentingan Pariwisata. Harusnya  Pemda Boalemo bisa mencoba pendekatan ecotourism, bukan wisata massal yang cenderung eksploitatif,” ungkap Rahman Dako Mantan Koordinator Japesda Gorontalo, Minggu (15/06/2019).

Menaggapi tudingan tersebut, Darwis Moridu sebagai Bupati Boalemo menegaskan kepada wartawan jika dirinya telah melakukan koordinasi dengan pihak pimpinan Provinsi terkait pinjam pakai kawasan Mangrove yang dimanfaatkan untuk pembangunan objek wisata pantai Ratu.

“Kami sudah ketemu dengan Pimpinan Provinsi untuk pinjam pakai, dan kami akan menanam sejuta Mangrove di pantai Ratu tahun 2020 mendatang,” janji Bupati Boalemo kepada wartawan.@GOL**

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button