KONTROL

Elemen Mahasiswa Nobar dan Bedah Film ‘Soe Hok Gie’ di Kampus UNIPO

MARISA (GOL) – Soe Hok Gie (lahir di Jakarta, 17 Desember 1942 – meninggal di Gunung Semeru, 16 Desember 1969 pada umur 26 tahun) adalah seorang aktivis Indonesia Tionghoa yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Ia adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.

Terinspirasi dari sosok Soe Hok Gie Lembaga Bantuan Hukum Wahana Keadilan Pohuwato kerja sama Fakuktas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Pohuwato melaksanakan kegiatan Nonton Bareng dan Bedah Film Soe Hok Gie dengan tema mengangkat tema ‘Eksistensi Kampus dan Pergolakan Pemikiran Mahasiswa’, bertempat di Kantin Peradaban Kampus Universitas Pohuwato, Selasa (01/10/2019)

Kegiatan ini diikuti puluhan mahasiswa di lingkungan Kampus Universitas Pohuwato (UNIPO), serta sejumlah organisasi ekstra kampus termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pohuwato. Kegiatan berjalan lancar dan penuh dialektika wacana seputar gerakan mahasiswa.

Direktur LBH Wahana Keadilan Pohuwato, Stenli Nipi mengungkapkan, kegiatan ini bertujuan membangkitkan semangat kepemudaan di kalangan generasi muda dan mahasiswa melalui pemaknaan diberbagai sisi kehidupan dan keilmuan dari kisah film Soe Hok Gie.

Juga membangun budaya diskusi dan berhimpun guna meningkatkan kualitas dan aktualisasi wawasan intelektual mahasiswa. Serta meningkatkan nasionalisme dan semangat kebersamaan di kalangan generasi muda di Pohuwato.

“Pemilihan Kantin Kampus UNIPO sebagai tempat bedah film didasarkan tujuan untuk memanfaatan ruang terbuka dan strategis sebagai ruang terbuka tempat anak mahasiswa berkumpul dan berdiskusi usai mengikuti waktu perkuliahan,” jelasnya.

Stenli Nipi, SH.,MH yang juga menjadi pembicara utama pada diskusi itu, menyampaikan bahwa untuk mengemban status sebagai mahasiswa tidaklah mudah.

“Untuk menjadi mahasiswa tidak hanya habis dalam ruang kelas saja tapi ada tanggungjawab besar yang diemban,” cetusnya.

Ia menambahkan, menjadi mahasiswa berarti menjadi pecinta kebenaran dan melawan penindasan terhadap rakyat. Dimana semua itu harus dibekali dengan membaca buku, diskusi, dan kajian yang mengasa intelektual dan daya kritisme untuk mencapai mahasiswa yang paripurna.

“Tiada indahnya sebuah penghukuman bahkan matipun tidak jadi soal, tapi apa yang lebih puitis selain berbicara tentang kebenaran” ujar Stenli Nipi saat mengutip kata bijak oleh sosok Soe Hok Gie.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Pohuwato, Santo Ali, yang juga hadir dalam acara itu, memberi apresiasi atas inisiatif ini. Santo berharap, melalui film tersebut jiwa-jiwa Gie bisa kembali muncul kepermukaan dan mampu membuang rasa apatis dan acuh tak acuh terkait persoalan yang hadapi oleh Bangsa dan Negara bahkan Daerah saat ini.

“Karena sampai hari in banyak mahasiswa yang teracuni politik praktis atau dalam bahasa di film ini adalah politik tai kucing, dan perlu kita ketahui bahwa musuh kita bukan pemerintah tapi kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat, ketidakbenaran dan kezaliman,” tutup Santo penuh semangat. (@/tim_gol)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button